Home » Tak Ada Santo dari Sirkus by Seno Joko Suyono
Tak Ada Santo dari Sirkus Seno Joko Suyono

Tak Ada Santo dari Sirkus

Seno Joko Suyono

Published September 2010
ISBN :
Paperback
397 pages
Enter the sum

 About the Book 

Tak Ada Santo yang MelukaiDi puncak kecemasannya akan nasib teman-temannya yang berada di ambang kebinasaan, seorang pemain klarinet, seorang muslim yang lebih percaya kepada kemuliaan para santo daripada karamah aulia, berdoa, Ya, Santo SiulMoreTak Ada Santo yang MelukaiDi puncak kecemasannya akan nasib teman-temannya yang berada di ambang kebinasaan, seorang pemain klarinet, seorang muslim yang lebih percaya kepada kemuliaan para santo daripada karamah aulia, berdoa, Ya, Santo Siul selamatkan Kinan.... Ya, Santo Bopong lindungi Nguyen....Itulah doa yang menegaskan kembali tema besar novel ini: penyelamatan. Doa yang menggelikan sekaligus mengharukan. Doa yang terang-terangan menampik taklimat pengarang yang berdiri gagah sedari awal: Tak ada santo dari sirkus. Dengan caranya sendiri ia tengah merawat iman yang naif dan kekanak-kanakan. Bahwa santo-santo juga bisa lahir dari dunia sirkus, dari para pemain sirkus yang keteraniayaannya melebihi penderitaan santo-santo abad pertengahan. Mereka bisa menolong siapa saja yang bermohon kepada mereka-tanpa peduli apa pun agama si pemohon.Jika judul novel ini menggerendel harapan, tidak demikian dengan ceritanya. Ia menghibur kita dengan letupan-letupan imajinasi yang liar, perincian yang tidak hanya indrawi, tapi sangat ensiklopedis. Di dalamnya ada macam-macam ramuan: dari dunia Katolik masa awal hingga khazanah seni rupa dan musik dunia. Dari seluk-beluk gereja, hagiografi para santo, sejarah, kuliner, farmakologi, sirkus, hingga isu bersih lingkungan. Semuanya diberi tempat, dicatet.Dengan perincian sekaya ini, kisahnya bergerak bolak-balik dari dunia si aku hari ini di sebuah kota di kawasan Laut Mediterania ke kampung halamannya sesaat sebelum ia berangkat menjadi sukarelawan, percintaannya dengan seorang perempuan bernama Nin, bahkan melesat jauh ke masa kanak-kanaknya. Satu masa ketika ia mengenal sebuah kelompok sirkus dengan pemain-pemainnya yang ajaib dan menyenangkan hingga nasib nahas yang menimpa kelompok sirkus itu.Bab-bab novel ini menunjukkan dengan jelas alur kisah. Bab 1-7 mengisahkan kehidupan baru sang guru klarinet selaku sukarelawan dengan secuil kenangan kepada tanah asalnya. Bab 8-14 memutar secara meriah kenangan si aku pada kehidupan sirkus di kampungnya. Tiga bab terakhir mempertemukan dua kisah yang terpisah oleh jarak dan waktu dalam ketegangan yang sama.Tiga bab terakhir ini sangat menentukan. Sebab, di sinilah dua kisah yang semula berjalan beriringan, dengan jukstaposisi yang mahir, menjadi berkelindan, bahkan berubah menjadi kembaran. Para sukarelawan dan anggota kuartet yang dibenci habis-habisan oleh warga kota adalah semacam penjelmaan kembali anggota sirkus dan keluarga Indo-Belanda yang ditangkap dan disiksa penduduk dengan bantuan aparat keamanan. Si aku menemukan wajah tua kakak-adik sinyo Hans dan Jaap pada wajah Rodriguez Parra, sukare-lawan yang babak-belur dihajar warga kota. Bahkan ia menatap bayangan kematian Fientje, kakak perempuan Hans dan Jaap, yang memilukan di dam kota itu, tragedi yang dulu tidak sempat ia saksikan.Strategi Borgesian itu telah memberikan harga tersendiri kepada novel debutan Seno Joko Suyono ini. Tapi ia tampak sebagai strategi literer yang kelewat sadar diri. Dengan wataknya yang ensiklopedis, novel ini menghadirkan to-koh sekaligus narator orang pertama tunggal dengan pengetahuan nyaris tanpa cela. Meski profesinya hanya gu-ru klarinet, ia adalah juru cerita serba- tahu. Keserbatahuan yang dengan se-nang hati dipinjamkan pengarang kepa-danya. Tapi dalam beberapa kesempatan ia bisa juga menjadi juru cerita yang sangat cerewet dan membosankan.Semula saya menyangka, dalam bentuknya yang epistolaris, novel ini sengaja mengizinkan munculnya kelisanan dalam deskripsi dan dialog tokoh-tokohnya. Bahkan dengan masuknya beberapa diksi dialek Jakarta dan Jawa pada ragam cakapan orang-orang nun jauh di kawasan Laut Mediterania. Tapi kemudian saya sadar bahwa novel ini ditulis dengan sangat ceroboh, tanpa penyuntingan sama sekali. Salah cetak dan ketakajekan penulisan kata bisa kita temukan di hampir setiap alinea. Kecerobohan yang terus-menerus melukai saya.Maka, di batas akhir luka-luka pembacaan ini, saya ingin berdoa, Ya, Santo Siul, lindungi sang Pengarang.... Ya, Santo Bopong, sadarkan Seno....Zen Hae, penyair